SMA _SIJIL MENENGAH AGAMA

Sijil Menengah Agama (SMA) adalah peperiksaan awam yang diduduki oleh semua pelajar tingkatan 4 Sekolah Agama Negeri Pahang di seluruh Pahang. Peperiksaan ini dikelolakan sepenuhnya oleh Jabatan Agama Islam Pahang (JAIP).

SMA adalah sjil agama peringkat menengah yang menggunakan sukatan pelajaran daripada universiti Al-Azhar, dan SMA juga diiktiraf oleh Kementerian Pelajaran Malaysia. Pada masa sekarang pengambilan untuk kursus persediaan Program Ijazah Perguruan di Institut Pendidikan Guru juga menggunakan Sijil SMA.

Senarai Mata Pelajaran Sijil Menengah Agama

1.NAHU DAN SARAF

2.BALAGHAH

3.TAFSIR

4.MANTIQ

5.TAUHID

6.FEKAH

7.ADAB DAN NUSUS

8.INSYA’ DAN MUTALAAH

9.HADIS


NAHU DAN SARAF

NAHWU adalah kaidah-kaidah  Bahasa Arab untuk mengetahui bentuk kata dan keadaan-keadaannya ketika masih satu kata (Mufrod) atau ketika sudah tersusun (Murokkab). Termasuk didalamnya adalah pembahasan SHOROF. Karena Ilmu Shorof bagian dari Ilmu Nahwu, yang ditekankan kepada pembahasan bentuk kata dan keadaannya ketika mufrodnya.

Jadi secara garis besar, pembahasan Nahwu mencakup pembahasan tentang bentuk kata dan keadannya ketika belum tersusun (mufrod) , semisal bentuk Isim Fa’il mengikuti wazan فاعل, Isim Tafdhil mengikuti wazan أفعل, berikut keadaan-keadaannya semisal cara mentatsniyahkan, menjamakkan, mentashghirkan dll. Juga pembahasan keadaan kata ketika sudah tersusun (murokkab) semisal rofa’nya kalimah isim ketika menjadi fa’il, atau memu’annatskan kalimah fi’il jika sebelumnya menunjukkan Mu’annats dll.

Satu kata dalam Bahasa Arab disebut Kalimah (الكَلِمَة) yaitu satu lafadz yang menunjukkan satu arti.

Kalimat atau susunan kata dalam Bahasa Arab disebut Murokkab (المُرَكَّب). Jika kalimat / susunan kata tersebut telah sempurna, atau dalam kaidah nahwunya telah memberi pengertian dengan suatu hukum ” Faidah baiknya diam” maka kalimat sempurna itu disebut Kalam (الكَلاَم) atau disebut Jumlah (الجُمْلَة).

Kalimah-kalimah dalam Bahasa Arab, diringkas menjadi tiga macam:

1. Kalimah Fiil (الفِعْلُ) = Kata kerja

2. Kalimah Isim (الإِسْمُ) = Kata Benda

3. Kalimah Harf (الحَرْفُ) = Kata Tugas.

Khusus untuk Kalimah Fi’il, bisa dimasuki: قد, س, سوف, Amil Nashob ان dan saudara-saudaranya, Amil Jazm, Ta’ Fa’il, Ta’ Ta’nits Sakinah, Nun Taukid, Ya’ Mukhotobah.

Khusus untuk Kalimah Isim, bisa dimasuki: Huruf Jar, AL, Tanwin, Nida’, Mudhof, Musnad.

Khusus untuk Kalimah Harf, terlepas dari suatu yang dikhusukan kepada Kalimah Fiil dan Kalimah Isim.

Menurut wazannya, asal Kalimah terdiri dari tiga huruf, 1. Fa’ fi’il, 2. ‘Ain Fi’il, 3. Lam Fi’il (َفَعَل). Apabila ada tambahan asal, maka ditambah 4. Lam fi’il kedua (َفَعْلَل). Apabila ada tambahan huruf bukan asal. maka ditambah pula pada wazannya dengan huruf tambahan yang sama, semisal  ٌمُسْلِم ada tambahan huruf Mim didepannya, maka ikut wazan مُفْعِلٌ.

Pelajaran selanjutnya →

( Klik _ Belajar  Bahasa Arab  )

Pelajaran I:

Muqadimah dan Pengenalan Ilmu Balaghah

MUQADIMAH

  1. Ilmu Balaghah merupakan bagian dari Ilmu Bahasa Arab
  2. Urgensi mempelajari Bahasa Arab
  1. al-Quran dan Hadits ditulis dengan Bahasa Arab

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Quran yang berbahasa Arab supaya kalian berakal menggunakan akal.” (Q.S. Yusuf [12]: 2).

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنْذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيهِ فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ

“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu al-Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya (seluruh dunia) serta memberi peringatan tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam.” (Q.S. asy-Syura [42]: 7).

Ibnul Qayyim berakata, “Memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama.Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah dan menegakkan syi’ar-syi’ar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.” (Iqtidha Shiratil Mustaqim).

  1. Mengetahui sisi kemukjizatan al-Quran

Al-Quran merupakan mukjizat Nabi Muhammad yang sifatnya aqliy (mukjizat yang bisa dipelajari sampai kapanpun). Salah satu kemukjizatan al-Quran terletak pada faktor bahasanya. Mulai dari tata bahasa, tata letak kata, pemilihan kata, keseimbangan kata, pemilihan rima akhir, dll.

Nah, dengan mempelajari Ilmu Balaghah ini kita akan mengetahui sisi kemukjizatan bahasa al-Quran ini.

  1. Bahasa Arab merupakan bahasa pertama di dunia (Nabi Adam a.s.)

Sudah disepakati oleh kita bahwa manusia pertama yang ada di dunia ini adalah Nabi Adam a.s.. Berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan Hadits Nabi, Nabi Adam a.s. berbicara dengan bahasa Arab. Sebagai contoh berikut pernyataan Nabi Adam dalam al-Quran ketika beliau terhoda oleh Iblis untuk melanggar aturan selama di surge (tidak boleh mendekati suatu pohon yang lazim disebut pohon khuldi):

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Keduanya berkata, “Ya Tuhan Kami, Kami telah Menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni Kami dan memberi rahmat kepada Kami, niscaya pastilah Kami Termasuk orang-orang yang merugi. “” (Q.S. al-A’raf [7]: 23).

  1. Bahasa Arab paling banyak diserap oleh bahasa lain (termasuk bahasa Indonesia)

Arab – Indonesia

رَعْيَةٌ                 -> rakyat

مُشَاوَرَةٌ        -> musyawarah

مَشْهُوْرٌ         -> masyhur

أَبَدًا             -> abadi

زِيَارَةٌ           -> ziarah

مَرْكَزٌ           -> markas

مِسْطَرَةٌ         -> mistar

Kata-kata serapan lainnya: khas, hikayat, amal, wajib, almanac, awal, akhir, bakhil, balig, batil, hikmah, hakim, halal, haram, daftar, lafad, khianat, dll.

Arab – Inggris

قِيْتَارَةٌ           -> gitar

قَهْوَةٌ            -> kopi

لَيْمُوْنٌ          -> lemon

نَارَنْج           -> orange

قَنْدِى          -> candy

اَلْكَحْلُ         -> alcohl

  1. Bahasa Arab kaya akan kosa kata

Misalnya:

Khail (خيل )                 : sekumpulan kuda
Faras (فرس )                : seekor kuda (jantan atau betina)

Hishan (حصان )           : kuda jantan

Hajr ( حجر)                   : kuda betina

Mahr ( مهر)                  : anak kuda jantan

Mahrah ( مهرة)              : anak kuda betina

Filw ( فلو)                    : anak kuda jantan yang baru lepas daripada menyusu ibu

Haikal (هيكل)               : kuda yang besar dan bertubuh tegap

Matham (مطهم)            : kuda yang sempurna dan baik

  1. Bahasa Arab mempunyai kaedah analisis struktur ayat (i’rab) yang sempurna

Misalnya, kata محمد bisa dibaca “muhammadun”, “muhammadan”, atau “muhammadin”. Ini tergantung kedudukan kata dalam suatu kalimat. Standarnya adalah pada baris di akhir kata (dhamah, fatah, kasrah).

  1. Bahasa Arab mempunyai sistem morfologi (tashrif) yang unik

Misalnya, dari kata ضَرَبَ akan dapat diuraikan tasrifnya ushulnya sebagai berikut:

ضَرَبَ – يَضْرِبُ – ضَرْبًا – ضَارِبٌ – مَضْرُوْبٌ – إِضْرِبْ – لَا تَضْرِبْ – مَضْرِبٌ – مَضْرِبٌ – مِضْرَبٌ – ضُرِبَ – يُضْرَبُ

Dari tashrif ushul yang jumlahnya 12 kata tersebut, masing-masing katanya terdapat tashrif tersendiri. Kita ambil contoh dari kata kedua (يَضْرِبُ):

يَضْرِبُ – يَضْرِبَانِ – يَضْرِبُوْنَ – تَضْرِبُ – تَضْرِبَانِ – يَضْرِبْنَ

تَضْرِبُ – تَضْرِبَانِ – تَضْرِبُوْنَ – تَضْرِبِيْنَ – تَضْرِبَانِ – تَضْرِبْنَ

أَضْرِبُ – نَضْرِبُ

  1. Bahasa Arab mempunyai ungkapan yang halus dan teliti

Misalnya ketika membahasakan nama waktu sepanjang hari berikut:

– Dazur دزور (waktu mula-mula timbul matahari di waktu pagi)

– Buzugh بزوغ (waktu mula timbul matahari selepas waktu dazur)

– Dhuha ضُحى (waktu mula terasa bahang panas matahari)

– Ghazalah غزالة (waktu matahari mula naik selepas waktu dhuha)

– Hajirah حاجرة (waktu tengah hari yang mula terasa kepanasan)

– Dzuhr ظهر (waktu tengah hari matahari mulai naik menegak)

– Zawal زوال (waktu matahari berada tegak di atas kepala)

– ‘Asr عصر (waktu siang mula berakhir matahari kemerah-merahan)

– Asil عصيل (waktu matahari mulai condong ke arah barat)

– Sabub صبوب (waktu matahari semakin menghilang)

– Ghurub غروب (waktu matahari mula terbenam)

– Khadur خدور (waktu matahari hilang dari pandangan atau gelap)

  1. PENGENALAN ILMU BALAGHAH
  2. Definisi Ilmu Balaghah
  1. Secara Etimologi

Ilmu Balaghah berasal dari dua kata, yaitu illmu dan balaghah. Ilmu berarti ilmu, kumpulan pengetahuan. Balaghah berarti sampai.

Secara bahasa, balaghah adalah:

اِسْمٌ مُشْتَقٌ مِنْ فِعْلِ بَلَغَ بِمَعْنَى إِدْرَاكُ الْغَايَةِ أَوِ الْوُصُوْلِ إِلَى النِّهَايَةِ

“Isim musytaq dari kata kerja balagha yang bermakna sampai pada tujuan atau sampai pada akhir.”

Dalam Lisanul ‘Arab dijelaskan:

بَلَغَ: بَلَغَ الشَّيْئُ، يَبْلُغُ بُلُوْغًا: وَصَلَ وَانْتَهَى، وَتُبَلِّغُ بِالشَّيْئِ: وَصَلَ إِلَى مُرَادِهِ

وَالْبَلَاغُ: مَا يُتَبَلَّغُ بِهِ وَيَتَوَصَّلُ إِلَى الشَّيْئِ الْمَطْلُوْبِ

وَالْبَلَاغَةُ: اَلْفَصَاحَةُ

وَرَجُلٌ بَلِيْغٌ: حَسَنُ الْكَلَامِ فَصِيْحُهُ يُبَلِّغُ بِعِبَارَةِ لِسَانِهِ كُنْهَ مَا فِى قَلْبِهِ

Kata “balagha” berarti sampainya sesuatu. Kata “yablughu – bulughan” berarti sampai dan berakhir. Kalimat “wa tuballighu bisy-syai`i” berarti sampai pada yang dimaksud.

Adapun kata “al-balagh” berarti sesuatu yang menyampaikan/mengantarkan kepada sesuatu yang dicari.

Sedangkan kata “al-balaghah” artinya fasih.

Dan, kalimat “rajulun balighun” artinya kefasihan bicaranya bagus bisa menyampaikan dengan lisan sesuatu yang tersirat di dalam hatinya.

Sepadan dengan kata-kata tersebut, dalam al-Quran diungkapkan suatu bentuk perkataan dengan sebutan “qaulan balighan”:

وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا

“… dan katakanlah kepada mereka perkataan baligh (yang berbekas pada jiwa mereka).” (Q.S. an-Nisa [4]: 63).

  1. Secara Terminologi

Ilmu balaghah merupakan disiplin ilmu yang berkenaan dengan masalah kalimat (mengenai susunan kalimat, makna, pengaruh jiwa terhadapnya, dan keindahan pemilihan kata.

Ilmu balaghah memiliki tiga bidang kajian, yaitu:

  1. Ilmu bayan ( علم البيان )

Secara bahasa bayan artinya terbuka atau jelas.

Ilmu bayan adalah ilmu yang mempelajari cara-cara menyampaikan suatu ide dengan redaksi yang beragam. Yang pertama kali mengembangkan imu bayan ini adalah Abu Ubaidah Ibn al-Matsani dengan kitab yang ditulisnya Majazul Quran.

Objek kajian ilmu ini adalah:

– اَلتَّشْبِيْهُ (penyerupaan)

– اَلْمَجَازُ (majaz)

– اَلْكِنَايَةُ (konotasi)

  1. Ilmu Ma’ani (علم المعانى)

Ma’ani merukan bentuk plural dari kata ma’na. Secara bahasa ma’ani berarti arti-arti atau makna-makna.

Ilmu Ma’ani adalah pengungkapan melaluai ucapan sesuatu yang ada dalam pikiran atau disebut juga gambaran dari pikiran.
Sedangkan menurut istilah, ilmu ma’ani adalah:

عِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ أَحْوَالُ اللَّفْظِ الْعَرَبِيِ الَّتِى بِهَا يُطَابِقُ مُقْتَضَى الْحَالِ

“Ilmu yang mempelajari hal ihwal bahasa Arab yang sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi.”

Yang pertama kali mengenalkan dan mengembangkan ilmu ini adalah Abddul Qahir al-Jurzanji. Sedangkan objek kajian dari ilmu ini adalah kalimat-kalimat bahasa Arab.

  1. Ilmu badi’ (علم البدي)

Secara bahasa badi’ adalah kreasi baru yang sebelumnya tidak ada sama sekali. Sedangkan secara istilah adalah suatu ilmu yang mempelajari segi-segi (metode dan cara-cara yang ditetapkan untuk menghiasi kalimat dan memperindahnya) dan keistimewaan- keistimewaan yang dapat membuat kalimat semakin indah, bagus dan menghiasinya dengan kebaikan dan keindahan setelah kalimat tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi dan telah jelas makna yang dikehendakinya.
Yang mengenalkan dan mengembangkan Ilmu Badi’ adalah Abdullah Ibnul Mu’taz (Wafat tahun 274 H). Sedangkan objek kajiannya adalah usaha memperindah bahasa, dalam  محسنات لفظية (keindahan lafal) maupun makna محسنات معنوية (keindahan makna).

*dari berbagai sumber


TAFSIR


MANTIQ

Ilmu Mantik mempunyai dua pengertian:
1. Berdasarkan kepada topik perbahasannya:
Adalah ilmu yang membicarakan tentang maklumat-maklumat yang berupa tanggapan dan gambaran serta maklumat-maklumat yang berupa hukum dan penetapan.
(yang mana ianya dapat membantu seseorang untuk mengenal dan mendapat gambaran tentang sesuatu yang tidak diketahui atau membantu seseorang untuk mendapat kepastian tentang hakikat sesuatu yang belum pasti)

Huraiannya:
* Ilmu bermaksud: kaedah-kaedah umum.
* Maklumat Tasawwuriah dan Tasdiqiah : Seseorang mengetahui erti perkataan dan susunan ayat yang telah ada dalam fikirannya sehingga ia dapat mengetahui apa yang tidak diketahui.

2. Berdasarkan kepada faedah ilmu Mantik:
Adalah peraturan / kaedah-kaedah untuk memandu serta mengawal akal fikiran manusia daripada tersalah dan terpesong semasa berfikir.

Huraiannya:
* Kanun bermaksud: kaedah-kaedah umum.
* Ta’sim : peraturannya mengawal akal fikiran daripada tersalah semasa berfikir.

Bidang perbahasan ilmu Mantik:
• Berkaitan Maklumat Tasawwuriah dan Tasdiqiah,
(yang mana ianya dapat membantu seseorang untuk mengenal dan mendapat gambaran tentang sesuatu yang tidak diketahui atau membantu seseorang untuk mendapat kepastian tentang hakikat sesuatu yang belum pasti).

Faedah ilmu Mantik:
• Mengawal fikiran daripada tersalah semasa berfikir.
• Membezakan antara yang benar dan salah.
• Mendidik kekuatan akal dan mengembangkannya dengan perbahasan dan menghasilkan keputusan.

Ilmu mantik dikenali dengan berbagai nama, antaranya:
Pengukur ilmu, ilmu berdasarkan bukti, neraca segala ilmu, ilmu kaedah-kaedah berfikir.

* Nota:
Matlamat mempelajari ilmu Mantik adalah mengawal akal daripada tersalah dan terpesong


TAUHID

PENGERTIAN ILMU TAUHID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ilmu Tauhid secara umum diartikan dengan ilmu yang membicarakan tentang cara-cara menetapkan aqidah agama dengan menggunakan dalil-dalil yang meyakinkan, baik dalil naqli, dalil aqli maupun dalil perasaan (wujdan). Sarjana barat menterjemahkan Ilmu Tauhid ke bahasa mereka dengan “Theologi Islam”. Secara etimologi “Theologi” itu terdiri dari dua kata yaitu “theos” berarti “Tuhan” dan “Legos” berarti ilmu. Dengan demikian dapat diartikan sebagai ILMU KETUHANAN. Sedangkan secara terminologi (istilah), theologi itu diartikan :

  1. “The discipline which concert God or Devene Reality and Gods   Relation to the world”, maksudnya suatu pemikiran manusia secara sistematis yang berhubungan alam semesta.
  2. “Sciense of religion, dealing therefore with God and Man in his relation to God”, maksudnya pengetahuan tantang agama yang karenanya membicarakan tentang Tuhan dan Manusia serta manusia dalam hubungannya dengan Tuhan.
  3. “The sciense which treats of the facts and fenomena of religion and the relationship between God and Man”, maksudnya ilmu yang membahas fakta-fakta dan gejala agama dan hubungannya antara Tuhan dan Manusia.

Dari beberapa pengertian di atas dapatlah disimpulkan bahwa theologi itu merupakan ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan hubungannya dengan manusia, baik berdasarkan kebenaran agama (wahyu) ataupun berdasarkan penyelidikan akal murni.

Inilah sebabnya theologi itu bukan hanya berupa uraian bersifat pikiran tentang agama semata (the intelectual expression of religion) tetapi dapat juga bercorak agama (reaviled theologi) or (filosophical theologi). Untuk itu siapa saja bisa menyelidiki sesuatu agama dengan semangat penyelidikan bebas tanpa harus dari orang-orang yang beragama tersebut atau mempunya hubungan dengan agama yang ditelitinya.

Ilmu Tauhid ini juga sering dinamakan dengan Ilmu Kalam, Ilmu Ushuluddin dan Ilmu Aqaid. Disebut Ilmu Tauhid karena tujuan pokok ilmu ini adalah meng-ESA-kan Tuhan (Allah) baik zat, sifat maupun af’alnya (perbuatanNya).

Disebut Ilmu Kalam karena :

  1. Pembicaraan pokok yang dipersoalkan pada permulaan Islam adalah firman (kalam) Allah yaitu Al-Quran, apakah ia makhluk diciptakan (non azali) atau tidak diciptakan (azali).
  2. Dasar pembicaraan Ilmu Kalam adalah dalil-dalil akal pikiran sehingga kelihatan mereka ahli bicara. Dalil naqli baru digunakan sesudah ditetapkan kebenaran persoalan dari segi akal pikiran.
  3. Pembuktian kepercayaan agama sangat mirip dengan falsafah logika, maka untuk membedakannya disebut dengan Ilmu Kalam.

Disebut Ilmu Ushuluddin (ilmu aqaid) karena pokok pembicaraannya adalah dasar-dasar kepercayaan agama yang menjadi pondasi agama Islam.Ilmu Kalam menjadi ilmu yang berdiri sendiri, mulai masa pemerintahan Daulah Abbasyiah (Khalifah Al-Makmun) ketika Mazhab Mu’tazilah menjadi Mazhab negara. Mazhab ini telah mempelajari filsafat dan memadukan metodanya dengan metoda Ilmu Kalam. Sebelumnya ilmu yang membicarakan kepercayaan masih disebut dengan “al-fiqhu fi ad-din”, sebagai imbangan ilmu fiqh yang dinamakan dengan “al-fiqhu al-ilmi”. Imam Hanafi sendiri menamakan bukunya tentang kepercayaan itu dengan “al-fiqhu al-akbar”.

Pemakaian theologi Islam untuk Ilmu Kalam masih dapat dibenarkan karena pengertiannya tidak berbeda, sebab Ilmu Kalam membicarakan Wujud Tuhan, Sifat-Sifat Wajib, Sifat Jaiz (boleh) dan Sifat Mustahil pada Tuhan. Membicarakan Wujud Rasul, dengan Sifat-Sifatnya baik Wajib, Jaiz dan Mustahil pada mereka.

Juga dibicarakan tujuan ke-utus-an mereka, pertanggungan jawab manusia di akhirat, balasan dan siksaan, semua itu bisa dicapai dengan dalil pikiran yang yakin dan intuitif. Di samping itu juga Ilmu Kalam memberi alasan akan kebenaran kepercayaan tersebut serta membantah orang yang mengingkarinya dan yang menyeleweng daripadanya.

Jadi pengertian Theologi Islam dan Ilmu Kalam memiliki kesesuaian makna. Adanya kepercayaan kepada Tuhan dan segala sesuatu yang bertalian dengannya, hubungan Tuhan dengan alam semesta dan manusia, disamping kepercayaan kepada soal-soal gaib lainnya yang kadang-kadang akal manusia itu tidak mampu lagi menjangkaunya.

nota tauhid tingkatan 4

 1) النصوص الموهمة للتشبيه

(يَدُ اللهِ فَوْقَ أَيْدِيْهِمْ) تاويله: القدرة

(وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ) تاويله: الذات

(وَجَاءَ رَبُّكَ) تاويله: مجيء أمره

(هَلْ يَنْظُرُونَ إِلاَّ أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ) تاويله: إتيان رسول رحمته أو عذابه

(يَنْزِلُ رَبُّنَا إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ) تاويله: نزول ملك ربنا

(قُلُوبُ الْعِبَادِ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ) تاويله: القدرة والإرادة

(إِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيَجْتَنِبِ الْوَجْهَ فَإِنَّ اللهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ) تاويله: صورة أخيه

(يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ) تاويله: التعالي والعظمة

(الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى) تاويله: استولى وملك

(إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ) تاويله: يرتضي

(تَعْرُجُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ) تاويله: تعرج إلى مكان يتقرب إليه بالطاعة فيه

(أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ) تاويله: الملك الموكل بتعذيب العصاة

2) القدر المتفق عليه بين السلف والخلف؟

أنه تعالى مخالف للحوادث

فما ورد في القرآن أو السنة، مما يوهم خلاف ذلك (يوهم التشبيه) يجب تأويله

ما يختلف عليه السلف والخلف؟

في تعيين المراد من النص.

رأي السلف فيه: تفويض علمه إلى الله

رأي الخلف فيه: تعيين معنى يحمل عليه اللفظ بواسطة القرائن

3) تعريف التأويل: إخراج الشيء عن ظاهرة المتبادرة منه

4) مرجع الخلاف: ( وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ الله وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ)

رأى السلف: وقف على قوله تعالى: (وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ الله)

رأى الخلف : عطف (وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ) على (الله)

5) من هم السلف؟ (ا) قيل: ما قبل الثلاثمائة (ب) قيل: ما قبل الخمسمائة (ج) هم الصحابة والتابعون وتابعو التابعين

قدم القرآن

1) ثلاث مقدمات لقدم القرأن

ا) الكلام يطلق على الكلام النفسي وعلى الكلام اللفظي، وإطلاقه على النفسي أشهر

ب) القرأن يطلق على الألفاظ المقروءة وعلى الصفة النفسية القائمة بذاته تعالى، وإطلاقه على الألفاظ المقروءة أشهر

ج) لكلام الله اللفظي دلالتان:

الأولى: دلالته على معناه الموضوع له، والمدلول بعضه حادث وبعضه قديم.

الثاني: دلالته على الصفة النفسية

2) رأي الأشاعرة: لله كلام نفسي، وكلام لفظي،

ومعنى (كون القرأنِ كلامَ الله): (ا) أنه خلق القرأن (ب) وليس لأحد فيه كسب

3) رأي المعتزلة: الكلام لا يطلق إلا على الكلام اللفظي.

ومعنى (كون الله متكلما) عندهم: (ا) أنه خالق الكلام (ب) فهم ينكرون الكلام النفسي

 (ج) أن كلام الله هو المؤلف من الحروف والكلمات الدالة على المعاني

4) رأي الحنابلة: أن كلام الله الذي نتلوه قديم

5) خلاصة رأي أهل السنة:

ا) القرآن (كلام الله النفسي) : قدم – غير مخلوق – قائم بذاته تعالى – ليس حادثا لاستحالة قيام الحوادث بذاته

ب) القرآن (كلام الله اللفظي): حادث – لكن لا يصح وصفه بالحدوث، دفعا للإيهام، إلا في مقام التعليم

6) النصوص: قال النبي ( القُرْآنُ كَلامُ اللهِ غَيْرُ مَخْلُوق) – أي الكلام النفسي

        قالت عائشة ( ما بَيْنَ دَفَتَيِ الْمُصْحَفِ كَلامُ الله) – أي الكلام النفسي

        ((إِنَّا أَنْزَلْناهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ)) – أي الكلام اللفظي

        ((إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ)) – أي الكلام اللفظي

التوفيق والخذلان

1) تعريف التوفيق لغة: التأليف

2) تعريف التوفيق اصطلاحا: خلق قدرة الطاعة في العبد، والداعية إليها

3) تعريف الخذلان لغة: ترك النصرة والإعانة

4) تعريف الخذلان اصطلاحا: خلق قدرة الطاعة في العبد، والداعية إليها

5) المراد بالقدرة عند إمام الحرمين: سلامة الأسباب والآلات

6) المراد بالقدرة عند الإمام الأشعري: العرض المقارن للطاعة/ العرض المقارن للمعصية

7) تعريف الأسباب: الأشياء التي تكون حاملة على الفعل

8) تعريف الآلات: الأشياء التي يحصل بها الإعانة على الفعل

9) تعريف الداعية: الميل النفساني للعمل

10) دليل إمام الحرمين ( فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا )

11) دليل الإمام الأشعري ( مَا كَانُوا يَسْتَطِيعُونَ السَّمْعَ وَمَا كَانُوا يُبْصِرُون )

12) دليل خلق الله الهداية والضلال ( فَمَنْ يُرِدِ اللهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلامِ، وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ في السَّماءِ )

13) الموفق عند الإمام الأشعري: لا يعصي من حيث ما وفق فيه

14) المخذول عند الإمام الأشعري: لا يطيع من حيث ما خذل فيه

 الوعد والوعيد

 1) الوعد: يجوز تخلفه عقلا (عند الأشاعرة والماتريدية)

2) الوعد: لا يجوز تخلفه شرعا (عند الأشاعرة والماتريدية)

دليله: ( وَعْدَ اللهِ لا يُخْلِفُ اللهُ وَعْدَهُ) / ( إِنَّ اللهَ لا يُخْلِفُ الْمِيعَاد )

  • لأن لو تخلف للزم الكذب والسفه والخلف

3) الوعيد: يجوز تخلفه عقلا

4) الوعيد: يجوز تخلفه  شرعا (عند الأشاعرة)

5) الوعيد: لا يجوز تخلفه شرعا (عند الماتريدية)

5) أراء الأشاعرة: (ا) خلف الوعيد كرم، يمتدح عليه فاعله، والله أكرم الأكرمين

 (ب) الوعد حق العباد على الله، والوعيد حق الله على العباد، له أن يستوفيه، وله أن يعفو

6) أراء الماتريدية: / النقائص يجب تنزيه الله عنها

1) الكذب في خبره

 2) تبديل القول ( مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ)

3) تجويز عدم خلود الكافر في النار ( وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا)

7) إجابة الأشاعرة:

1) لا يلزم من تخلف الوعيد كذب،

 لأن الكريم، إذا أخبر بوعيد، بنى ذلك على مشيئته

(مَنْ وَعَدَهُ اللهُ عَلَى عَمَلٍ ثَوابًا فَهُوَ مُنْجِزٌ لَهُ، وَمَنْ أَوْعَدَهُ عَلَى عَمَلٍ عِقَابًا، فَهُوَ بِالْخِيَار، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ، وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ)

2) لا يلزم من تخلف الوعيد تبديل القول،

 لأن الآية خاصة بوعيد الكفار، أو من لم يرد الله العفو عنه.

3) لا يلزم من تخلف الوعيد تجويز عدم خلود الكافر في النار،

 لأن جواز تخلف الوعيد ، فيما يجوز العفو عنه

( إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا) – دليل عام

( إِنَّ اللهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ، وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ) – دليل خاص

8) اتفاق الأشاعرة والماتريدية

1) الكافر مخلد في النار

2) أن بعض المؤمنين يغفر لهم

9) قال الأشاعرة: أن آيات الوعيد، شملت هذا البعض المغفور له، فظهر تخلف الوعيد

10) قال الماتريدية: أن أيات الواردة بعموم الوعيد، مستثنى منها المؤمن المغفور له، فظهر عدم تخلف الوعيد

11) يصح عند الأشاعرة، أن تقول: اللهم اغفر لجميع المؤمنين جميع ذنوبهم

لا يصح عند الماتريدية، أن تقول: اللهم اغفر لجميع المؤمنين جميع ذنوبهم

12) رأي المعتزلة: لا يجوز تخلف الوعد والوعيد عقلا وشرعا

أفعال العباد

1) أن الله خالق لجميع الأفعال

2) علاقة بين الأسباب ومسبباتها

1) عند جمهور أهل السنة:     أن بين الأسباب ومسبباتها تلازما عاديا، يصح تخلفها

2) عند جماعة منهم الغزالي:   أن بين الأسباب ومسبباتها تلازما عقليا، لا يصح تخلفها

                                        (لا يرتضي جمهور أهل السنة بهذا، لأنه ربما جر معتقده إلى إنكار المعجزات)

3) المعتزلة:                     أن الأسباب تؤثر في مسبباتها، بقوة أودعها الله فيها

                                        (فسقه أهل السنة)

4) قال البعض :               أن الأسباب تؤثر في مسبباتها، بذاتها

                                (كفره أهل السنة)

مذهب أهل السنة

3) أفعال العباد نوعان          (ا) اضطراري

                                        – مخلوق لله

                                        – ليس لقدرات المخلوق علاقة به

                                           (ب) اختياري

                                        – مخلوق لله

                                        – ليس لقدرات المخلوق علاقة به، إلا على سبيل الكسب

– الله موجد له (للفعل)

                                        – العبد كاسب له (للفعل)، ومتصف به

4)     الكسب        لغة:                    : تحصيل الفعل

5)     الكسب اصطلاحا:    عند الأشاعرة   : مقارنة القدرة للقدور

                                        قيل     : إرادة العبد للفعل

                                                : صرف إرادة العبد له (للفعل)

                                عند الماتريدية   : الجزم والتصميم على الفعل

6) الإرادة والصرف، إن كان من العبد، كان خالقا

7) الإرادة والصرف، إن كانا من الله، كان مجبورا

8) مراحل العمل ثلاثة:                (ا) ميل ورغبة من خلق الله

                                (ب) عزم وتصميم من خلق العبد

                                (ج) وجود الفعل بقدرة الله

9) الفرق بين الكسب والخلق

للكسب تعريفان:       (ا) ما يقع به (بالكسب) المقدور، من غير صحة انفراد القادر به (بالكسب)

                                (ب) ما يقع به (بالكسب) المقدور، في محل قدرته (قدرة الكاسب)

                                يترتب عليهما:

                                (ا) أنه لا يلزم من الكسب وجود المكسوب

                                (ب) أنه يلزم اتصاف الكاسب بما كسب

10) للخلق تعريفان            (ا) ما يقع به (بالخلق) المقدور، مع صحة انفراد القادر به (بالخلق)

                                (ب) ما يقع به (بالخلق) المقدور، لا في محل قدرته (قدرة الخالق)

                                يترتب عليهما:

                                (ا) أنه يلزم من الخلق وجود المخلوق

                                (ب) لا يصح اتصاف الخلق بما خلق

11) أدلة أهل السنة:          ذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ – مناط العبادة هو الخلق

هل من خالق غير الله – (الاستفهام) إنكاري، و(مِنْ) استغراقية

                                وَاللهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ – (ما) مصدرية أو موصولة

                                وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا –

                                لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ – دليل الكسب


sekolah menengah agama shamsudin

sekolah menengah agama pasir panjang


FEKAH

Segala puji bagi Allah tuhan sekalian alam, selawat dan salam Rasul junjungan dan ahli keluarganya dan para sahabatnya.

PERKARA ASAS TENTANG FIQH

1) Ta’rif Ilmu Fiqh : Mengetahui praktikal hukum syar’ie bersumber daripada dalil-dalil yang terperinci. Merupakan ilmu perundangan Islam yang syumul.

2) Pecahan dan Kesyumulan Fiqh : Memastikan kehidupan individu, masyarakat dan umat Islam selari dengan hukum-hakam syar’ie di bidang berikut : –

a) Hubungan dengan Allah SWT ; iaitu melalui Fiqh Ibadat.

b) Hubungan manusia dengan dirinya sendiri ; iaitu melalui kefahaman halal, haram & adab-adab peribadi.

c) Hubungan manusia dengan ahli keluarga ; melalui Fiqh al-Usrah.

d) Hubungan manusia sesama manusia lain ; melalui Fiqh Mu’amalat Maliah, Fiqh Jinayah ( hudud, qisos, ta’zir), Fiqh Siyasah Syar’iyyah (politik), Fiqh al-Jihad.

Kesimpulan : Islam melingkupi seluruh aspek kehidupan dan tidak terhad kepada hukum hakam persendirian dan keluarga sahaja.

3) Fleksibliti Hukum Fiqh : Hukum dari sudut boleh berlaku fleksibiliti ke atasnya atau tidak, terbahagi kepada dua iaitu :-

a) ‘At-Thawabit’ : iaitu hukum yang tidak boleh berubah sama sekali walaupun zaman dan masa berubah : Ia melibatkan perkara berikut [1] :-

· Asas-asas aqidah ; seperti : kewujudan Allah, kesempurnaan Allah dan yang seumpamanya.

· Asas-asas kebaikan dan asas akhlak yang diterima oleh fitrah yang suci. Ia seperti : Adil, amanah, baik kepada ibu bapa, bersikap benar, mempertahankan nyawa, amar ma’ruf nahi mungkar, menyebarkan ilmu, mengekalkan syiar Allah di atas muka bumi, mentarbiyah pemuda dan pemudi, menyertai jemaah Islam dan lain-lain.

· Seluruh asas-asas keburukan ; seperti zalim, derhaka ibu bapa, curi dll.

· Hukum yang berasal dari nas yang membawa maksud kekal hingga qiamat , seperti sadba Nabi SAW : الجهاد ماض إلى يوم القيامة

Ertinya : “Jihad berterusan hingga ke hari qiyamat”

· Hukum-hakam asas yang qat’ie (iaitu dari sudut ia suatu kewajiban) adapun pelaksanaannya terdapat hal yang boleh berubah menurut peruntukan ‘rukhsoh’ : seperti kefardhuan solat, zakat, haji, puasa .

b) ‘Al-Mutaghayyirat’ ; Hukum yang dibina atas dalil-dalil yang tidak ‘qat’ie thubut’ atau ‘zanniyyatu at-thubut’ dan ‘zanniyyatu ad-dalalah’ dan juga beberapa hal pelaksanaan terhadap perkara ‘thawabit’ seperti : Kewajiban menutup aurat, adalah thawabit demikian juga had yang perlu ditutup, maka kaedah pelaksanaannya terpulang kepada muslim, samada ingin memakai warna biru, hitam, hijau dan lain-lain. Demikian juga hal pentadbiran politik yang berubah mengikut keperluan tetapi MESTILAH BERLEGAR DIDALAM LINGKUNGAN ‘THAWABIT’ sahaja serta tidak menyimpang darinya.

4) Sifat Umum Hukum Islam :

a. Bertepatan dengan fitrah yang sohih, dan tidak bertentangan dengan aqal yang sempurna. Dalil – Rujuk Firman Allah : Ar-Rum : 30

Perkara ini ditegaskan juga oleh As-Syeikh Abd Rahman Nasir As-Sa’di dengan katanya “ Sesungguhnya syarak tidak akan datang dalam bentuk yang bertentangan dengan aqal, juga tidak akan bertentangan dengan ilmu yang benar” [2], Perkara ini juga pernah diketengahkan oleh Imam Ibn Taymiah dalam kitabnya ‘Dar’u at-Ta’arud bayna an-Naql wal ‘aql’ (Menolak pertentangan di antara nusus dan aqal), demikian juga disebut oleh Ibn Qoyyim : “ Tiada satu nas shohih pun kecuali ianya bertepatan dengan aqal” [3]

b. Dibina di atas dasar ‘Taysir wa raf’u al-Jarh’ ; iaitu memberi kemudahan buat manusia dan mengangkat kesukaran dari mereka” ; Dalilnya dari firman Allah dalam surah Al-Baqarah : 185 , Al-Maidah : 6 , An-Nisa’ : 43 , Al-Baqarah : 183 , Al-‘A’raf : 157.

c. Menegak keadilan ; Dalil , firman Allah : Al-An’am : 115 dan banyak lagi.

d. Memelihara kepentingan ummah dan kesejahteraan ummat dan mengelakkan mafsadah dari berlaku ke atsa mereka. [4] Dalil – Firman Allah : Al-Qasas : 77

e. Kekal ; Ia adalah syari’at terakhir dan bersifat pembatal kepada syari’at sebelumnya. Dalil : firman Allah : ahzab ; 40.

f. Tadarruj dalam penurunannya. Bagaimanapun wajib dilaksana segera ketika mampu, Dalilnya dari firman Allah : Al-Imran : 133 ; Al-Maidah : 48 , An-Nisa’ : 65 ; dan hadith Nabi SAW, ertinya : “Apabila aku perintahkan dengan sesuatu perintah, maka perbuatlah kamu seaya upayamu, jika ku larang sesuatu pekara jauhilah ia” [5]

Adapun sikap ulama kontemporari terhadap Isu ‘Tadarruj’ dalam pelaksanaan hukum Islam, secara umumnya mereka terbahagi kepada dua kumpulan :-

· Tidak bersetuju dan wajib melaksanakannya segera : ia adalah pandangan As-Syahid Syed Qutb, As-Syahid Abd Qadir Awdah, Dr. Said Ramadhan Al-Buti.

· Bersetuju dengan Tadarruj berperancangan ketika tiada kemampuan : mereka adalah Abul A’la al-Mawdudi, Dr Yusof Al-Qaradhawi & Dr Muhd Abd Ghaffar Syarif.

Bagaimanapun kumpulan ini meletakkan beberapa syarat iaitu [6] :

– Yakin tentang kewajiban melaksanakan syari’at Islam secara sempurna , dan wajib menyediakan suasana yang sesuai bagi melaksanakan tuntutan tersebut.

– Bukanlah bermaksud tadarruj, menjatuhkan hukuman kepada si lemah, dan meninggalkan si kaya dan yang berpangkat.

– Prinsip Aqidah tidak termasuk dalam bab tadarruj ini.

– Prinsip-prinsip asas Islam tidak termasuk dalam harus tadarruj, seperti solat, puasa, tidak boleh berzina, tidak boleh minum arak, berjudi dan seumpama dengannya.

5) Sifat Khusus Islam & Hukum-hakamnya.

a- Rabbani : Bersifat ketuhanan dari sudut : Sumber dan Manhaj.

b- ‘Alami : Menyeluruh buat seluruh manusia di seluruh tempat.

c- Syumuli : Merangkumi seluruh aspek kehidupan manusia. Surah Anbiya: 89

d- Waq’ie : Sesuai di setiap keadaan, tempat dan masa.

e- Thawabit wal murunuh : Thabit dalam hal prinsip dan fleksible dalam hal pelaksanaan.

6) Sebab Ikhtilaf Fuqaha’ dalam hukum-hakam yang bersifat Dzonniah.Secara umum, perbezaan pandangan merujuk kepada hal berikut :Perbezaan dalam menentukan sesebuah dalil sesuai di jadikan dalil untuk sesuatu hukum @ tidak.
Perbezaan dalam menentukan kekuatan ‘thubut’ dalil.
Perbezaan dalam menentukan darjat kekuatan perawi hadith.
Perbezaan memahami erti dan madlul dari al-Quran dan Al-Hadith.
Perbezaan dalam membuat penilaian, penelitian dalil dan ‘tarjih’.
Perbezaan pemikiran akibat suasana dan persekitaran.

Pertama : Sebab Ikhtilaf Dalam Hal Yang Terdapat Nas

1) Dalam memahami ayat-ayat Al-Quran

· Ayat Quran kebanyakkan datang dalam bentuk Mujmal. Perlukan tafsiran dari Sunnah. Cth : Solat, potong tangan pencuri dsbg. Tugas Rasul SAW dalam hal ini (An-Nahl:64 ; An-Nahl : 44 ; Al-Imran: 164)

· Hadith datang dalam dua bentuk : Perbuatan, Pertuturan. Ikhtilaf dalam menerima pakai sunnah perbuatan. Jumhur terima.

· Ikhtilaf dalam hal Sunnah Perbuatan Nabi SAW. (Fe’liyyah) Sebab :-

i. Ilmu tentang ‘thubut’ sesebuah hadith :-

– Hadith diluar pengetahuan sesetengah Fuqaha’.

– Perbezaan dalam mempercayai perawi hadith.

ii. Berkenaan kandungan Hadith.

– Perbezaan memahami madlul dan kehendak hadith.

2) Ikhtilaf dalam hal Sunnah Pertuturan Nabi SAW ( Qawliyyah)

Sebab-sebabnya :-

· Ikhtilaf dalam lafaz ‘musytarak’ : Perkataan yang boleh membawa pelbagai maksud.

· Ikhitlaf dalam memahami lafaz umum dan khusus Hadith.

· Ikhtilaf dalam memahami madlul hadith dari sudut makna haqiqi atau majazi.

· Ikhtilaf dalam men’taqyid’ mutlaq atau dibiarkan mutlaq sahaja.

· Ikhtilaf dalam memahami lafaz ‘perintah’ dan ‘larangan’ dalam hadith.

Kedua : Ikhtilaf Dalam Hal Yang Tiada Nas Khusus.

· Ruang ikhtilaf lebih besar.

· Perbezaan dalam menentukan Qawaid ‘Ammah dan Ruh Tasyri’ (Maqasid Syariah) untuk dijadikan asas ijtihad.· Perbezaan dalam menentukan dakwaan terdapat ijma’ dalam sesuatu isu.

· Perbezaan dalam menerima sumber-sumber dalil selain Quran & Hadith, iaitu (sila rujuk artikel terkemudian berkenaan Pengenalan Ilmu Usul Fiqh) :-

 

Advertisements