LAGU TERAKHIR UNTUK BUNDA

Namaku Tya, Ayahku meninggal ketika aku berumur 11 tahun, tepatnya 4 tahun yang lalu. Kini aku tinggal bersama Ibu yang sangat menyayangiku dan Kakakku yang selalu mendukungku. Nama Kakakku adalah Yanti ia kini Kakakku SMA kelas 2, di SMA Taruna Jaya. Ya sekolah inilah yang aku tempati sekarang ini. Sore itu, aku ingin menikmati keindahan pantai karena aku malas berada di rumah. Entahlah apa yang membuatku merasa malas berada di rumah sore itu. Aku pergi ke pantai, duduk di antara pasir-pasir putih yang mungkin juga sedang menunggu indahnya sunset. Langit sudah mulai berselimut oleh awan jingga, tetapi aku tetap duduk di sana menkmati angin pantai yang sepoi-sepoi tertiup, suara kicauan burung yang kembali ke sarangnya, ataupun suara gesekan daun-daun kelapa karena tertiup angin.

“Dor!!”
“Astaghfirullah haladzim! Eh kamu ngagetin aja Wid”
“Hahaha.. Ngapain kamu ke sini? Kayak orang nggak ada kerjaan aja.”
“Ya nggak apa-apa, pingin aja menikmati keindahan sunset aja. Sama mengenang saat-saat bersama Ayahku di sini.”
“Oh.. kamu dulu sering ke sini sama Ayahmu? Ngapain?”
“Iya, dulu itu setiap minggu aku dan Ayahku sering pergi ke tengah laut sana menunggu ikan-ikan yang sedang kelaparan dan melahap umpan-umpanku. Lalu saat hari sudah mulai berselimut warna oranye yang bercampur merah kemerahmudaan kami kembali, tetapi kami tak langsung kembali ke rumah, kami berhenti sejenak untuk mengantar matahari pulang. ”

“Wow.. seru banget yahh..”
“Hahaha.. iya, tapi aku yakin tak akan lagi ada saat indah seperti saaa-saat aku bertemu Ayah.”
“Tya, saat ada debu yang tertiup angin untuk menuju ke tempat lain maka, besar kemungkinan kan debu itu akan tertiup angin kembali dan akan menempati tempat pertama ia berada. Jadi juga besar kemungkinan kamu akan mendapatkan kebahagiaan itu lagi. Tak apa kau masih mempunyai kasih sayang seorang Ibu dan dukungan dari Kakakmu. Sudahlah ayo pulang Ibumu pasti cemas. Apa kau tak ingat Ibumulah yang merawatmu sejak kecil?”

“Tapi wid, Ayahku kan udah ada di surga.. bagaimana ia bisa menghiburku lagi?”
“Tya, kebahagiaan di dalam hidupmu juga bukan karena Ayahmu saja kan? Tak apa kau masih mempunyai kasih sayang seorang Ibu dan dukungan dari Kakakmu. Sudahlah ayo pulang Ibumu pasti cemas. Apa kau tak ingat ibumulah yang merawatmu sejak kecil?”
“Astaghfirullah, bagaimana aku bisa melupakan mereka? Padahal merekalah yang merawatku selama ini.”
“Udah deh.. pulang yuk ah.. mataharinya udah pulang tuh.”
“Ayo.”

“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam Tya” Jawab Bunda dan Kakak.
“Eh.. Tya udah selesai nganter matahari pulang?”
“Hahaha.. Kakak bisa aja.. kok tahu sih kak?”
“Tahu dong. Dulu, setiap sore kan aku ke luar rumah duduk-duduk di teras, terus aku lihat Ayah sama kamu duduk-duduk di antara pasir-pasir itu.”
“Oh iya.. Tapi Ayah udah nggak da jadi aku harus mengantar matahari sendirian.”

“Mau aku temenin?”
“Nggak usahlah kak.”
“Tya, Bunda juga kesepian tanpa Ayahmu, tapi apa mau dikata Ayahmu mengidap penyakit tumor otak. Tuhan berkehendak lain, mungkin Ayahmu sedang menunggu kita di depan pintu surga.”
“Iya Bunda, Ayah di sana pasti sendirian nggak ada yang temenin.”
“Sudah-sudah, Tya ambilah brosur di meja itu.”
“Iya kak, hmm.. apa maksudnya ini?”
“Ada lomba pop singer, dan Kakak yakin kamu mau mau ikut dan menang.”
“Kakak, kok gitu sih.. aku nggak ada bakat nyanyi tahu..”
“Tya dicoba aja, Bunda pasti dukung Tya kok”
“Hmm.. gimana ya? Boleh deh..”

Pada keesokan harinya, aku bangun dengan bersemangat sekali. Hari ini adalah hari pertamaku masuk di SMA ini nggak menyangka bisa masuk SMA yang unggulan kayak ini. Setelah menyantap makanan lezat yang dibuat oleh Bundaku, aku berangkat menggunakan sepeda kayuh. Aku tak berangkat bersama Kakakku karena dia bisanya berangkat jam 7 kurang 20 menit. Kalau aku sih nggak suka berangkat siang kayak gitu. Tapi jarak sekolah dan Rumahku juga lumayan deket sih, sekitar 10 menit lah jika menggunakan sepeda kayuh.

Sesampainya di sekolah aku terkejut karena di sini banyak sekali teman-teman lamaku. Suasana ini semakin membuatku semangat untuk bersekolah. Apalagi di sini aku bertemu sahabat lamaku yaitu Karizha, Finn dan Vita. Karizha mengajakku untuk duduk sebangku, tanpa berpikir panjang aku pun mengiyakannya. Bel masuk pun berbunyi, guru-guru yang mengajar pun sudah mulai memasuki kelas masing-masing. Saat guru menerangkan pelajaran, siswa-siswa juga mencatat semua yang penting, mendengarkan guru dengan baik.
“Loh, kok nyatetnya pake bolpoin warna-warni sih Tya?”
“Hahaha iya. Soalnya kalau nggak kayak gini aku nggak bisa mengingat catetanku, jadi intinya biar aku mudah menghafal pelajarannya.”
“Oalah.. kayaknya cara itu masuk akal juga sih.. Siniin dong Bolpoinmu.”
“Ini..”
“Makasih ya.. kamu baik banget deh.”
“Iy sama-sama”
Aku merasa ada yang berubah dengan Karizha begitu juga Finn dan Vita.

Kring.. Bel istirahat pun berbunyi, aku ke kantin bersama sahabat-sahabatku. Karizha, Finn, Vita, Riza, Widi dan Deva. Kami ke kantin dan membeli makanan yang sama, kami bercanda tertawa. Hari yang cukup menyenangkan di seekolah baru. Kring.. Bel masuk pun berbunyi, semua siswa segera masuk ke kelas masing-masing, begitu juga aku, tetapi 3 sahabatku yang lainnya yaitu Karizha, Finn dan Vita tak ingin kembali ke kelas dulu, mereka masih di Kantin. Sampai jam pelajaran ke 7 mereka belum kembali, entahlah ada apa dengan mereka. Bu Sri memberi kami PR Fisika dan memberitahu bahwa besok ada ulangan Fisika.

Kring.. bel pulang pun berbunyi, Karizha, Finn dan Vita masuk kelas dangan wajah tanpa dosa, tak mengakui kesalahan, tak menganggap apa yang baru saja terjadi sebuah kesalahan. Aku mulai tak tahan dengan sikapnya itu. Hingga aku mananyakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Karizha, tadi kamu ngapain?”
“Aku tadi di kantin kok”
“Kenapa kamu kok nggak ikut pelajarannya Bu Sri?”
“Nggak apa-apa sih. Aku malas aja sama guru itu kayaknya serem banget. Lagi pula aku nggak bawa buku Fisika kok.”
“Huh.. ya sudahlah. Oh iya besok ada Ulangan Fisika, jamnya diganti jadi jam ke 7 dan 8.”
“Oh.. oke, makasih ya udah diberitahu.”
“Iya sama-sama.”

“Oh iya kamu belajar apa aja buat besok?”
“Mungkin materi di catatan sama latihan soal gitu, mungkin juga ditambahi sama materi dari buku Kakakku.”
“Oh gitu, oke.”
“Pulang yuk, Riz.”
“Nggak ah. Aku masih malas, nanti aja. Kamu duluan aja.”
“Oh oke, kalau gitu aku duluan ya?
“Iya”
Di sepanjang jalan, aku melamunkan sikap Karizha yang sangat aneh itu.

Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamar. Baru saja ku merebahkan tubuhku di kasur berwarna merah muda di kamarku, tiba-tiba ponselku berbunyi.
“Tya, tadi ada PR apa ya?”
“Ada PR Fisika Zha, masa nggak tahu sih?”
“Kan aku nggak ikut pelajaran Fisika tadi.”
“Oiya ya..”
“Mmm.. Boleh nggak buatin PR-ku?”
“Boleh deh..” Sebenarnya dalam batinku berkata lain, aku heran mengapa kini Karizha bersikap aneh seperti itu.
“Makasih ya? Oh iya, kamu kan juga belajar dari buku Kakakmu, boleh nggak catetin apa yang penting?”

Aku pun membalasnya. Sebenarnya cape sekali menulis rangkuman buku itu ke dalam SMS tapi mau bagaimana lagi, huh aku harus sabar.
“Udah? Cuma segitu doang?”
“Iya.” Dalam batinku aku sangat marah pada Karizha. Nasib baik aku mau balas SMS kamu. Huh, sabar sabar.
Terlebih dahulu aku mengerjakan PR-ku, lalu setelah selesai aku mengerjakan PR Karizha, Tetapi aku langsung menghentikan pekerjaanku dan langsung ke rumah Widi, karena aku teringat akan lomba pop singer.

“Assalamualaikum. Widi! Widi!”
“Waalaikumsalam, siapa ya?”
“Eh.. Ibu, Widinya ada?”
“Eh.. nak Tya.. Widinya ada kok. Sebentar ya Ibu panggilkan.”
“Oh..iya bu,”

“Eh..Tya, Ngapain kamu ke sini?”
“Itu lo Wid, ada lomba pop singer, terus aku diikutin sama Kakakku. Kamu bisa nggak bantuin aku?”
“Wah, bagus tuh lombanya. Bisa dong. Emangnya kapan itu lombanya?”
“Hmm..kapan ya? Gak tahu..”
“Huh kamu itu.. ke pantai yuk”
“Ayo”

Di pantai kami bercanda, bermain air, dan seperti yang biasa aku lakukan, yaitu mengantar matahari pulang. Widi benar kebahagiaan tak hanya diperoleh dari Ayahku saja, bahkan dari sahabat pun aku juga bisa mendapatkan kebahagiaan itu.
“Ternyata mengantar matahari dengan sahabatku juga seru ya. Sama serunya seperti ketika aku mengantar matahari dengan Ayahku.”
“Iya dong, siapa bilang kebahagiaan cuma ada di satu orang saja, bahkan mungkin kau bisa mendapat kebahagiaan itu dari berpuluh-puluh orang.”
“Udah yuk, ayo pulang belum mandi tahu aku.”
“Aku juga belum mandi tahu.”

“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, dari mana aja kamu dek? Nggak pamit.”
“Oiya lupa kak. Tadi habi dari Rumahnya Widi. O iya kak, lomba pop singernya itu kapan ya?”
“O..mm..itu kalau nggak salah masih 2 bulan lagi deh.”
“Huh.. selamat..”
“Apanya yang selamat?”
“Kan aku masih belum latihan sama sekali, dan sepertinya aku nggak yakin ikut lomba itu.”
“Kenapa sih dek kok nggak yakin, berputus asa sebelum berusaha itu sama aja kalah sebelum bertanding. Kamu mau dibilang gampang menyerah? Nggak kan? Makanya berusaha aja dulu. Udah deh mandi dulu sana!”
“Iya iya kak”
Malam harinya aku menyiapkan buku-buku untuk besok, lalu aku tidur.

Esok pagi pun tiba dan baru ku sadari PR Fisika untuk Karizha belum ku kerjakan, “Kenapa aku bisa lupa? Padahal tadi malam bukunya sudah ku siapkan, Tya tya.” Ucapku dalam batinku. Lalu aku pun bersiap untuk mandi. Setelah mandi aku menyantap makanan yang telah disajikan oleh Bundaku tercinta. Tanpa terasa jam dinding yang terpampang di depanku telah menunjukkan pukul 06.20. Aku pun dengan tergesa-gesa mengerjakan PR untuk Karizha itu. Tapi apa boleh buat kecepatan menulisku tak bisa dipercepat lagi, aku berhasil menyelesaikannya dalam waktu 30 menit, sedangkan perjalananku ke sekolah 15 menit. Akhirnya aku pun telat.

Saat menjalani hukuman yaitu berdiri di tengah lapangan yang diterpa oleh sengatan panas hinggga istirahat, ternyata Karizha juga dihukum karena tidak mengerjakan PR-nya.
“Maaf ya Zha, kamu jadi dihukum gara-gara aku. Kemarin itu PR-mu belum ku kerjakan soalnya tiba-tiba aku ingat dengan lomba pop singerku.”
“Nggak apa-apalah.. lagian itu juga salahku. Seharusnya aku tidak menyuruhmu mengerjakan PR-ku. Itu kesalahan besarku, aku tidak membawa buku Fisikanya, tidak mengikuti pelajaran bu Sri, menyuruhmu mengerjakan PR-ku. Ah.. aku menyesal untuk itu semua.”
“Tak apa, sebaiknya kita saling memaafkan saja”

Kepercayaanku kepada Karizha mulai meningkat kembali. Saat dia mengakui semua kesalahannya aku merasa sangat lega.
“Oh iya Tya, itu lomba pop singermu kapan?”
“Kata Kakakku sih masih 2 bulan lagi”
“Oh.. masih cukup lama ya. Kamu udah daftar belum?”
“Nggak tahu sih, soalnya yang daftarin kan Kakakku”
“kalau tempat daftarnya?”
“Nggak tahu juga, nanti aja di kelas aku tunjukin brosurnya.”
“Oke”

“Eh Tya brosur lomba pop singernya mana?”
“Oh iya hampir lupa. Ada di tas kok, bentar ya.”
“Iya”
“Ini loh brosurnya.”
“Oh ini, eh gimana kalau kita latihan bareng aja? Nanti sore gitu.”
“Boleh juga sih, tapi jam berapa?”
“Mmm.. sekitar jam 3-an gitu lo.”
“Oh oke. Mmm.. boleh nggak aku ajak Widi?”
“Boleh deh, nanti aku juga ajak Finn dan Vita.”
Kring.. Bel istirhat berbunyi. Akhirnya, hukumanku selesai juga. Aku ke kantin dengan Karizha dan membicarakan tentang Ulangan Harian Fisika nanti di jam ke 7 dan 8.

Kring.. Tanda untuk masuk pun berbunyi. Ketika aku dan Karizha memasuki kelas, terlihat wajah teman-temanku yang tampak gelisah karena hanya tinggal 1 jam lagi Ulangan Fisika dimulai. Waktu pelajaran jam ke 5 dan 6 berakhir, sekarang waktunya Bu Sri untuk mengadakan Ulangan Harian Fisika. Ulangan ini adalah Ulangan Harian peratamaku di sekolah ini, sehingga aku ingin menjadi yang terbaik. Kring.. Kring.. Bel tanda pulang. Seluruh siswa berhamburan ke luar seperti Gelombang yang sangat dasyat.
“Karizha, jangan lupa nanti ya? Jam 3.”
“Iya, di lapangan sekolah ya ngumpulnya?”
“Oke.”

Sesampainya di rumah aku pun bersiap-siap untuk ke Sekolah. Sebelum itu aku menjemput Widi dulu, tetapi ternyata Widi belum bersiap-siap. Aku pun menunggunya.. tiba-tiba setelah Widi selesai aku pun terkejut karena jam sudah menunjukkan pukul 3 kurang 15. Aku pun dengan tergesa-gesa mengayuh sepeda, sementara Widi mengikutiku dari belakang. Setelah sampai di Sekolah ternyata Karizha belum datang.
“Huhh… Untunglah Karizha belum datang.”
Tapi apa.. dia tak datang hingga pukul 4 sore. Lalu hp-ku berbunyi terdapat 3 SMS. Ku lihat SMS itu dan ternyata.
“Maaf ya Tya, aku nggak bisa datang. Soalnya aku diajak pergi sama Mamaku, maaf ya.” Kata Karizha.
“Tya maaf ya, aku nggak bisa ikut soalnya ada tamu yang nggak bisa ditinggal” Kata Finn.
“Maaf ya Tya, aku gak bisa ikut soalnya ada urusan mendadak. Maaf banget ya.” Kata Vita.
Tapi aku merasakan ada hal janggal di sini. Aku dan Widi pun menyelidiki mereka, ternyata mereka memberikan kejutan padaku.

“Ternyata sosok Karizha yang selama ini aku kenal adalah seorang pengkhianat. Rela meninggalkan Sahabat demi teman yang baru dikenalnya yang tak lain adalah orang yang selalu mengejek saahabatnya sendiri! Sahabat macam apa itu? Apa itu yang dinamakan Sahabat sejati? Kau tak pantas disebut sebagai Sahabatku. Sahabatku tak mungkin melakukan hal itu padaku.” Ucapku dalam hatiku sambil mengintip di balik semak-semak.

Lalu aku memberanikan diri untuk maju, tega atau tidak tega aku harus memarahi Karizha, walaupun aku tak mau memarahi sahabatku sendiri. Dengan hati-hati aku ke luar dari semak-semak dan menemui mereka.
“Ternyata ini yang kau lakukan hingga membuat kami menunggu lama.. kalau begini caramu, sampai kami berlumut pun kau tak akan datang.”
“Tya, bukan itu maksudku.. dengarkan aku dulu.”
“Aku tak perlu penjelasanmu, mulai sekarang kita tak akan menjadi sahabat lagi. Ayo Widi kita pulang. Aku nggak suka berada di sini terlalu lama. Buat apa berlama-lama di hadapan orang semacam itu.”

Sejak saat itu hubunganku dengan Karizha, Finn dan Vita yang dulu sangat dekat kini menjadi semakin jauh. Kami tak pernah lagi ke kantin bersama lagi, tak pernah SMS-an lagi. Tapi keputusanku memang benar, aku sering melihat mantan sahabatku itu bersama dengan musuhku. Ia menjadi anak yang sangat nakal. Tak seperti Karizha, sahabatku yang dulu.
“Ah.. sudahlah.. lupakan saja. Sekarang aku harus fokus terhadap lomba pop singerku. Aku harus latihan dan menggapai juara.” Ucapku dalam batin.

Hari ini dalah hari dimana Ulangan Fisika itu dibagikan. Karizha memasang wajah aneh yang tertuju padaku. Tetapi sesaat setelah diumumkan bahwa akulah yang mendapat nilai terbaik. Ia marah kepada sahabatnya. Memang ia begitu aneh. Hingga membuat Widi tertawa terbahak-bahak. Kring.. bel pulang berbunyi. Aku menemui sahabatku Widi terlebih dahulu sebelum pulang.
“Wid boleh gak bantuin aku latihan nyanyi?”
“Boleh kok kapan?”
“Besok aja jam 4, aku ke rumahmu ya Wid.”
“Iya deh.. ajak dong Deva sama Riza dong.”
“Iya deh, nanti kalau ketemu aku bilangin mereka deh..”

Sore harinya, aku pergi ke rumah Widi, tetapi sebelum itu aku menjemput Deva dan Riza dulu. Setelah itu kami menuju ke Rumah Widi.
“Pertama-tama itu ngapain ya.. hehe.. soalnya aku gak pernah latihan nyanyi.”
“Latih saja napasmu..”
“Oh.. oke oke, makasih Dev, coba nada tinggi ya”
“Iya.”

Setelah pulang dari rumah Widi, aku pun mencoba melatih suaraku di Kamar. Tanpa ku sadari Kak Yanti mendengarkanku.
“Cie.. yang suaranya bagus..”
“Ah.. Kakak.. pandai sekali mengejekku. Pasti ada yang lebih bagus kak besok.”
“Ah.. kamu pasti menang kok, kalau suara kamu kayak tadi..”
“Huh.. sudahlah aku mau mandi dulu ah..”
“Ya udah mandi sana, habis itu nyanyi lagi ya.. hehehe..”

Aku terus saja berlatih, hingga tak ku sadari bahwa lomba tinggal 2 hari lagi, aku dan Widi pun menyempatkan diri untuk pulang sore. Pada latihan kali ini aku tak yakin dengan kemampuanku.
“Wid, aku gak akan mampu melaksanakan lomba ini.”
“Tya, suaramu itu bagus buanget eh.. kamu pasti menang lah.. lagian Kakakmu kan udah ndaftarin kamu ke lomba itu kan?”
“Iya sih..”
“Helloo.. siapa tadi yang bilang suara Tya bagus?” Kata Karizha.
“Aku Widi kenapa emangnya? Itu fakta kan? Jadi gak salah aku ngomomng kayak gitu. Lagi pula dibandingkan suaramu suara Tya jauh lebih bagus keles.”
“Helloo.. jelas-jelas suaranya jelek banget ya kan temen-temen?”
“Iya dong suaramu itu juelek buanget nget, nget, nget deh..” Jwab Finn.
“Hahaha!!”

“Astaghfirullahhaladzim.. inikah perubahan yang terjadi dalam 2 bulan itu? Setelah kau bergabung dengan anak yang selalu mengejekku, ternyata kau juga ikut-ikutan mengejekku? Akhirnya inilah yang ku terima..” Ucapku di lubuk hatiku yang paling dalam.
“Oh iya.. satu lagi ya.. kamu gak akan menang dalam lomba itu, lomba itu akan aku menangkan dengan mudah.” Kata Karizha sambil mengerutkan wajahnya.
“Lihat saja besok. Tya pasti menang.” Sahut Widi.
“Sudahlah.. ayo latihan lagi.. Wid.”
“Udah deh.. mendingan kamu stop itu latihanmu.. lalu lupakan semuanya dan mundurlah dari lomba itu, karena akulah yang akan menang.” Kata Karizha sambil meninggalkanku.
“Lihat aja besok aku yang akan menang!” Teriakku.
“Sudah-sudah ayo latihan lagi.”
“Iya iya..”

Hari yang dinanti pun tiba.. pagi itu Tya bangun dengan wajah ceria, besinar seperti matahari yang menyinari bumi pada pagi itu.
“Kakak, Bunda aku tak yakin dengan semua ini.”
“Kamu bisa Tya lagi pula suaramu itu udah buagus banget, merdu, haduh pokoknya sip deh, salut deh punya adek kayak kamu. Nanti malam kalau Kakak nggak bisa tidur biar kamu aja yang menyanyikan lagu nina bobo, hehehe”
“Iya, Tya kamu gak boleh pesimis ya.. Tya harus optimis.” Kata Bunda.
“Iya.. makasih ya kak, bun, karena udah ngedukung aku. Aku mau siap-siap dulu ya”
“Nah gitu dong anak Bunda kan ceria.”

Setelah bersiap-siap dan menggunakan baju berwarna merah dengan pita berwarna biru, bak perpaduan antara api dan air. Layaknya baju yang bercampur-campur perasaannya pun bercampur aduk menjadi satu.
“Kak, Bun, Tya berangkat dulu ya.. doakan Tya supaya menang ya bun.”
“Iya Bunda dan Kakak akan mendoakan Tya..”
“Oh iya Tya, kalau Kakak ada waktu nanti Kakak akan datang ke acara lombamu deh.”
“Iya kak, Assalamualaikum Bun, Kak.”
“Waalaikumsalam”
“Waalaikumsalam dek”

Setelah Tya pergi Bunda pun ke dapur, Bunda mengambil air, tiba-tiba gelas Bunda terjatuh dan pecah, airnya pun tumpah dan menyebar ke segala arah.
“Bunda kenapa?”
“Bunda tak apa kak, hanya kurang enak badan saja.”
“Yanti bawa ke rumah sakit ya Bunda?”
“Tidak usah Yanti, Bunda nggak apa-apa”
“Ah, Bunda nggak apa-apa gimana sih? Ayo ah Yanti bawa ke Rumah Sakit.”

Sementara di sisi lain aku menjemput Widi, Deva dan Riza di Rumah masing-masing. Tetapi ketika mereka dalam perjalanan mereka melihat orang kecelakaan, dengan spontan Tya mengarahkan ke delapan jarinya dan menekan rem. Akhirnya Widi, Deva, dan Riza pun terkejut dan tak terkendali. Akhirnya mereka berempat pun jatuh.. Ketika terjatuh entah mengapa aku memiliki firasat yang buruk.
“Emm.. temen-temen aku kok tiba-tiba dapet firasat buruk gini ya”
“Huh.. Naudzubillah, semoga firasatmu itu tidak benar Tya.” Jawab Deva.
“Ayo bangun.. nanti Tya terlambat dalam lombanya” kata Widi.

Sesampainya di sana ia bertemu dengan Karizha. Karizha tampak cantik menggunakan gaun yang berwarna pink tua dengan berhiaskan bunga-bunga yang cantik menawan, sedangkan di kepalanya terdapat mahkota yang berkilauan.
“Wow.. kayaknya aku harus mempersiapkan mentalku agar kuat saat Karizha dinyatakan menang.”
“Tidak Tya Karizha tak akan menang, lagi pula gaun yang digunakannya tak secantik suaramu.” Dukung Riza.
“Lagi pula lomba ini mencari bakat menyanyi, bukannya bakat mendandan kan?” Kata Deva meyakinkaan Tya.
“Kamu benar juga, tapi.. bisa saja juri juga melihat dari penampilan.”
“Sudahlah.. jangan pedulikan dia. Fokuslah pada lombamu dan optimislah terhadap kemampuanmu.” Kata Widi.
“Terima kasih ya teman-teman kalian memang sahabatku yang paling oke deh, dari sahabatku yang lain.”

Keempat sahabat itu pun saling berpelukan satu sama lain. Tiba-tiba Karizha datang menemui mereka.
“Eh.. Tya.. halo apa kabar?”
“Baik, kamu?”
“Baik dong, oh iya maaf lo ya tentang omonganku yang kemarin, tidak sepantasnya aku ngomong kayak gitu ke kamu.”
“Iya gak apa-apa kok.”
“Mm.. ini aku bawain jus avokad buat kamu, kamu haus kan? Ini buatan Mamaku lo..”
“Iya makasih ya..”
“Sama-sama, diminum ya.”
“Iya.”
“Mm.. Tya aku kok merasa ada yang janggal di sini?” bisik Widi.
“Ahh.. perasaanmu saja kali, nggak ada yang janggal kok, mungkin Karizha udah berubah.”

Ternyata dugaan Widi memang benar. Setelah Tya meminum jus itu, suaranya menjadi serak, dan tak bisa merdu lagi. Sebetar lagi waktu untuk Tya maju.
“Teman-teman gimana nih?”
“Haduh.. coba aja maju, nanti siapa tahu di atas panggung ada mukjizat suaramu bisa kembali normal lagi.” jawab Widi.
Pada saat musik di putar, Tya hanya bisa diam. Ia pun didiskualifikasi dari lomba itu. Tya pun turun dari panggung dan menemui teman-teman yang menunggunya di bawah.
“Lain kali kita coba lagi ya Tya.. Semangat ya..” kata Widi.
“Oke, dan butuh waktu lama lupakan kenangan ini.”

Mereka pun melihat penampilan dari Karizha, ternyata Karizha dapat menguasai panggung dan membuat lomba itu menjadi keren.
“Wow.. keren banget..” Kata Tya.
Teleponnya pun berbunyi, Kring, Kring, Kring.. .
“Ehmm.. iya kak, ada apa?”
“Dek gimana lombanya?”
“Aku di diskualifikasi kak.”
“Oh.. ya udah gak apa-apa.. kan lain kali bisa dicoba lagi, oh iya sekarang kamu ke Rumh sakit Taruna Jaya ya..”

“Siapa yang sakit kak?”
“Bunda dek”
“Hah??!! Bunda masuk Rumh sakit? Ruangan apa kak?”
“Iya dek, Ruang Anggrek dek.”
“Oh.. oke oke.. oke, aku ke sana sekarang.”
Setelah itu aku memberitahu pada teman-temanku.
“Mm.. oke jadi gini aja aku sama Riza pulang, terus kamu sama Widi pergi ke Rumah sakit.” Jawab Deva.

Setelah sampai di sana ia sudah ditunggu oleh Kakaknya di depan pintu kamar Bunda.
“Kak gimana kedaan Bunda?”
“Sebentar dek, itu juga masih diperiksa sama dokternya.
“Oh.. iya kak.”
Mereka tak tahu apa yang terjadi di dalam, Bunda meminta padaa dokter itu untuk tidak memberitahukan hasil pemeriksaannya kepada Tya dan Kakaknya. Setelah dokter itu memeriksa Bunda.
“Dokter bagaaimana keadaan Bunda ku?”
“Maaf ya dek, saya belum bisa beritahukan hal ini?” ucap dokter sambil meninggalkanku dan Kakakku.

Aku segera masuk ke kamar untuk memastikan keadaan Bunda tak apa. Aku tak ingin kehilangan sosok yang aku cintai untuk kedua kalinya, setelah Ayahku pergi untuk memenuhi panggilan sang pencipta.
“Bunda!! Bunda tak apa kan? Bunda tak akan meninggalkan ya dan Kakak sendirian kan? Kalau Bunda sayang pada Tya dan Kakak Bunda tak akan lakukan itu.”
“Tya, Bagaimana lombamu nak?”
“Mafkan Tya Bunda, Tya didiskualifikasi, karena tadi tiba-tiba suara Tya serak. Tapi Tya janji suatu saat Tya akan memenangkan lomba itu.”

“Iya Tya tidak apa, lagi pula menang atau kalah dalam suatu perlombaan itu kan hal yang wajar. Kamu sudah berani untuk mengikuti lomba itu pun Bunda sudah bangga kok. Oh iya Tya kamu maukan menyanyikan lagu terakhir untuk Bunda?”
“Apa maksud Bunda? Bunda tak akan pergi menyusul Ayah sekarang kan? Ku mohon Tuhan, jangan engkau sedihkan aku jikala aku masih dalam keadaan seperti ini.”
“Hush.. Tya nggak boleh bilang kayak gitu, sudah, bernyanyilah saja.”
“Baik Bunda.”

“Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang
Nada-nada yang indah Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku Tak kan jadi deritanya
Tangan halus nan suci Telah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup Rela dia berikan”

“Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh.. Bunda ada dan tiada dirmu kan selalu ada di dalam hatiku”

Saat aku selesai menyanyikan lagu itu, Bunda pun menghembuskan napas terakhirnya. Cairan bening yang berkilau itu pun tak berhenti mentes dari kedua kelopak matanya yang bersinar ketika melihat wajah Bundanya untuk yang terakhir. Tangisan deras dari sang Kakak pun tak dapat dihentikan. Tangisan kedua bersaudara itu telah membasahi kedua tangan dan kaki Bunda. Pada akhirnya dokter pun memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi kepada kedua bersaudara itu.

“Sebenarnya Bundamu itu sudah sering sekali datang ke sini untuk memeriksakan kondisi tubuhnya yang terasa tak enak. Ternyata ia mengidap penyakit kanker servik. Kalau tidak salah itu skitar 8 bulan yang lalu ia sudah memasuki stadium 3, dan tadi maktu saya periksa stadiumnya sudah 4 dan sudah tak bisa diselamatkan lagi. Saya tadi juga terkejut melihat keadaan Bundamu dan turut berduka cita. Tadi itu Bundamu meminta waktu untuk berpamitan dulu kepadamu dan Kakakmu.”
“Terima kasih dokter.” Ucap Kakak.

Tya menjalani hidupnya bersama Kakaknya. Tya mengukir cukup banyak prestasi di Sekolah ini, hingga ia diberi beasiswa oleh sekolah dan melanjutkan kuliahnya di Unervesitas Indonesia. Lalu setelah aku menyelesaikan kuliahku, akhirnya aku bisa melupakan masa laluku yang begitu menyedihkan. Tya kini menjadi gadis yang cantik dan baik budinya di bawah bimbingan sang Kakak. Ia menjadi penyanyi yang terkenal dan memiliki banyak fans.

Sementara kak Yanti menjadi pengusaha di bidang kuliner dan memiliki Restoran yang bercabang hingga ke Negeri Jiran atau Malaysia. Sementara Karizha menjadi baby sitter, Finn menjadi pembantu rumah tangga, dan Vita menjadi pelayan di salah satu Restoran milik kak Yanti. Kak Yanti dan Tya hidup bersama dengan berkecukupan dan ia tak melupakan nasihat Widi yaitu kebahagiaan tak akan kamu peroleh dari seseorang saja tapi bisa jadi dari berpuluh-puluh orang.

Cerpen Karangan: Anindya Firdaus
Facebook: Anindya Firdaus
Twitter: @Anin_0626

dari blog  cerpenmu

Advertisements